Ketika berbicara tentang cita-cita, jawaban paling polos akan kita dapatkan
dari anak-anak. Sedangkan bagi seorang yang sudah menginjak angka seperempat,
cita-cita sepertinya buyar. Etapi dari dulu juga kehidupan saya mah mengalir
tanpa cita-cita yang tinggi melangit.
Sampai kemudian setelah menikah, kehidupan saya banyak berubah. Suami selalu
mengingatkan tentang banyak hal, bahwa saya bisa mencapai sesuatu yang luar
biasa andai saya sadar bahwa saya mampu.
Respon saya? Ragu.
Mental block. Kemudian teringat perkataan para
guru entah itu guru ngaji maupun guru di sekolah, "Esa punya
potensi." tapi berhenti sampai situ.
Berulang kali ditanya "momen terbaik apa yang sangat berkesan di masa
lalu yang kamu masih bisa merasakan kebahagiaannya hingga saat ini?" ada 1
jawaban yang selalu sama. Sayangnya saya belum sepenuhnya memilih jalur itu
karena pertimbangan "realita".
Padahal, Allah adalah al-wahhab, Maha Pemberi Karunia, tanpa mengharapkan
imbalan maupun tujuan tertentu dan memberikan secara berkesinambungan. Ia dapat
mengabulkan apapun mimpimu. Jika engkau percaya bahwa Allah al-wahhab, engkau
pasti bisa bermimpi sangat tinggi. Mimpi yang tentu saja bukan hanya tentang
diri, tapi juga tentang manfaat yang bisa disebarkan.
Kawan, bermimpilah tinggi agar ketika mimpi itu tak tercapaipun,
minimal kita sudah dapat menggapai sesuatu yang mendekati mimpi itu.
Percayakah teman, bahwa saya baru memiliki mimpi yang tinggi justru tahun
ini? Ketika saya “dipaksa” untuk menuliskan bintang terang oleh mentor saya
sebagai syarat untuk tetap berada di grup. Ketika saya dipaksa mengeluarkan
potensi mimpi terbaik saya. Ya, 2016 bagi saya menjadi tahun baru. Semakin banyak
dukungan ketika mimpi itu diucapkan, semakin banyak doa ketika mimpi itu
dideklarasikan. Menakjubkan bukan? Apalagi jika tercapai nanti.
Kawan, bagi seorang yang tumbuh dalam lingkungan yang tidak menekankan
mimpi, bermimpi tinggi bagi saya jauh lebih sulit dari diminta jualan untuk
mencari uang agar tetap bisa bersekolah. Jauh lebih sulit dari mengerjakan
makalah teman-teman agar mendapat bayaran atas makalah atau tugas tersebut.
Tapi, ketika mental block itu dihancurkan, ternyata rasanya lega. Duhai,
kenapa tidak dari dulu.
10 tahun lalu saya pernah punya satu mimpi besar. Ketika mendapatkan
perlakuan tidak enak dari pihak rumah sakit. Mimpi saat itu, 10 tahun nanti
saya akan mendirikan rumah sakit yang lebih ramah, lengkap dan nyaman seperti
rumah.
Mimpi yang sampai sekarang belum terpikir bagaimana cara Allah
mengabulkannya. Meski dulu sempat sangat berharap ketika ada yang mengajak
kerja sama membangun rumah sakit. Dari ajakan itulah saya malah “sadar” bahwa
biaya membuat rumah sakit sudah mencapai M. Sekitar 7-8 tahun lalu. Waw.
Saya mulai mundur dan bahkan hampir saja melupakan mimpi itu. Termasuk doa
yang dulu sering saya ulang: ingin memiliki perusahaan, sekolah, dan panti
berskala internasional dengan menerapkan syariat islam secara menyeluruh. Permintaan
yang sama sekali tidak pernah terbayang bagaimana mereka akan terwujud. Meminta
rumah dan mobil demi kenyamanan dan kebahagiaan.
Saya baru sadar pencapaian semua mimpi itu lebih mudah jika kita melibatkan
orang lain. Misal, untuk membahagiakan orang tua, memenuhi kebutuhan adik-adik,
dan sebagainya.
Saat menulis ini, saya tengah mendengarkan ceramah Ust. Yusuf Mansur tepat
di bagian cerita tentang nabi Musa beserta kaumnya yang tengah dikejar oleh Firaun
dan pasukannya. Di depan ada lautan yang dalam dan lebar, di belakang pasukan
yang kuat. Apa yang akan kita lakukan jika ada di situasi itu?
Ah, sederhana rupanya. Yakin, doa, dan ingat orang lain. Jika kita yakin
pada Allah al-Wahhab, maka sudah selayaknya semakin banyak doa terpanjat. Bukan
sekadar untuk kebahagiaan kita, tapi juga kebahagiaan orang sekitar, bahkan
kebahagiaan mereka yang pernah menyakiti kita. Luar biasa!
Yuk mulai berani memutuskan mau mencapai cita-cita seperti apa. Kemudian deklarasikanlah
dalam tulisanmu agar menjadi pengingat sekaligus penyemangat.
Esa Puspita,
Team Builder
Ditulis 12 Januari di kota tercinta, Bandung.
*****
Let's Learn What We Have To Learn.